Ketika Pria Kekurangan Testosteron
Pada pria usia produktif, sindroma kekurangan testosteron bisa menurunkan kualitas hidup.
Sepintas, tak ada yang kurang pada Bramantyo. Ia tampan, mapan, punya istri yang baik dan cantik, serta anak-anak yang sehat. Tapi siapa sangka, pria yang tampak sempurna ini ternyata punya masalah yang membuat hidupnya kini terasa muram.
Apakah pria berusia 48 tahun ini punya masalah di kantor yang membuat kariernya sebagai bankir terancam? Bram menggeleng. Atau sang istri berselingkuh? Ia kembali menggeleng. Lalu apa? ''Aku memang takut lama-lama istriku bakal selingkuh, sebab aku tak bisa memuaskannya lagi. Aku tak lagi perkasa seperti dulu,'' aku Bram pada sahabatnya.
Sejak beberapa bulan terakhir, Bram merasa ada yang tak beres pada dirinya sebagai pria. Kemampuan alat vitalnya untuk ereksi merosot tajam. Ia pun merasa cepat lelah dan tak bergairah. ''Apa yang mesti aku lakukan?'' tuturnya lirih.
Untunglah, ia punya sahabat yang baik dan berwawasan. Sang sahabat menyarankan Bram untuk segera berkonsultasi ke dokter spesialis andrologi. ''Lebih baik ke dokter, ketimbang pakai obat bebas yang nggakjelas manfaatnya,'' kata sang sahabat mengingatkan.
Tanpa membuang waktu, Bram pun memeriksakan diri ke dokter. Mencermati gejala-gejala yang diutarakan Bram, dokter lalu memintanya untuk menjalani pemeriksaan kadar testosteron. Dari pemeriksaan itu terlihat, kadar testosteron dalam darah Bramantyo di bawah 12 nmol/l. Padahal kisaran normalnya adalah antara 12 nmol/l sampai 40 nmol/l. Dokter pun menyatakan, Bram mengalami sindroma kekurangan testosteron (Testosterone Deficiency Syndrome / TDS). Bram tak sendirian. Cukup banyak pria seusianya yang mengalami keluhan serupa.
TDS pada pria adalah suatu keadaan di mana produksi hormon testosteron dari testis (kelenjar seks pada pria) tidak cukup dan mengakibatkan munculnya gejala-gejala kekurangan (defisiensi) hormon testosteron. Bertambahnya umur merupakan penyebab umum terjadinya TDS pada pria. Beberapa studi menunjukkan, TDS umumnya menyerang pria di atas 40 tahun. Massachusetts Male Aging Study pada 1991, juga Vermeulen Study pada 1972 membuktikan, aktivitas hormon testosteron menurun seiring dengan pertambahan usia. Pada usia 40 tahun, penurunan itu rata-rata mencapai 1,2 persen per tahun. Dan pada usia 70 tahun, pria akan kehilangan kira-kira 35 persen testosteron aktif alami yang dimilikinya.
Selain faktor usia, banyak pria dengan penyakit diabetes mellitus juga memiliki tingkat testosteron yang rendah. Begitu pun pria yang mengalami gangguan fungsi testis, keracunan, tumor, pasca operasi, dan sebagainya.
Fungsi testosteron
Seberapa penting sebenarnya kegunaan hormon testosteron bagi pria? Tentu saja sangat penting. Seperti dijelaskan Prof Dr dr Wimpie Pangkahila SpAnd FAACS, spesialis andrologi dan seksologi dari Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Udayana, Denpasar, Bali, testosteron sebenarnya tak hanya dimiliki kaum pria, tapi juga wanita. Peran hormon testosteron sangat diperlukan, baik pada masa janin (fetus), remaja, dan dewasa. ''Pada masa janin, testosteron berfungsi dalam proses diferensiasi organ seks untuk menjadi pria atau wanita,'' kata Wimpie saat berbicara dalam sebuah forum media edukasi bertema Waspadai Testosterone Deficiency Syndrome (TDS) pada Pria di Usia Produktif dan Usia Lanjut, di Jakarta, belum lama berselang.
Sementara pada masa remaja, testosteron berfungsi dalam perkembangan kejantanan sehingga muncul tanda-tanda fisik pria seperti munculnya dorongan seksual, fungsi ereksi, produksi sperma, perkembangan otot, suara yang membesar, pengaruh psikotropik, merangsang pembentukan sel darah, tumbuhnya rambut di wajah, ketiak, dan kelamin. ''Pada masa dewasa, testosteron berfungsi mempertahankan kejantanan, fungsi seksual, dan fungsi anabolik bagi kehidupan,'' terang ketua Pusat Studi Andrologi dan Seksologi pada FK Universitas Udayana ini.
Karena sebab-sebab tertentu, kadar hormon testosteron dalam tubuh bisa berkurang, hingga di bawah kisaran normal. Pada usia lanjut, kata Wimpie, defisiensi testosteron sering disebut dengan istilah ADAM (Androgen Deficiency in Aging Male) atau PADAM (Partial Deficiency in Aging Male). ''Istilah yang lebih populer adalah andropause,'' ujar dokter yang memperdalam andrologi di Universitas Airlangga, Surabaya, dan University of Washington, Amerika Serikat ini.
Yang kerap menimbulkan masalah adalah ketika defisiensi testosteron terjadi pada usia produktif. Masalah muncul, kata Wimpie, karena pada usia ini pria tetap harus bekerja dan menjalankan profesinya. Namun karena terjadi defisiensi hormon testosteron, maka banyak pria di usia produktif yang mengalami penurunan kualitas hidup sehingga produktivitas kerjanya menurun. ''Jadi pria dengan defisiensi testosteron adalah pria yang tidak normal karena kualitas hidupnya berkurang.''
Karena kekurangan hormon testosteron, seorang pria akan merasakan berbagai keluhan. Tak sekadar membuat resah, keluhan-keluhan itu bahkan bisa membuatnya depresi. Adapun keluhan umum yang dirasakan oleh pria penderita TDS adalah: rendahnya dorongan seksual, disfungsi ereksi dan menurunnya frekuensi ereksi, menurunnya massa dan kekuatan otot, penurunan massa tulang sehingga meningkatkan risiko fraktur (patah tulang), sulit konsentrasi, merasa lelah dan depresi, dan daya tahan tubuh menurun. Penderita TDS umumnya juga mengalami peningkatan massa lemak yang mengakibatkan komposisi tubuh berubah sehingga terjadi obesitas visceral. Obesitas jenis inilah yang membuat kebanyakan penderita TDS memiliki perut buncit. Kejadian penyakit kardiovaskuler di kalangan penderita TDS juga meningkat. ''Gangguan perasaan (mood) dan gangguan tidur juga meningkat,'' kata Wimpie.
Jika tidak diobati, penderita TDS akan terus-menerus mengalami keluhan itu. Dorongan seksual tetap rendah, disfungsi ereksi pun tak tertangani. Keadaan ini pada akhirnya bisa membuat penderita depresi berat.
Penanganan
Ketika seorang pria mengalami gangguan ereksi, merasa tak perkasa lagi, dan gejala-gejala TDS lainnya, tak jarang ia berusaha mengobati sendiri keluhan itu dengan membeli obat-obatan yang dijual bebas di pasaran. ''Hal ini memang banyak sekali terjadi di masyarakat kita,'' kata dr Nugroho Setiawan MS SpAnd, spesialis andrologi dari Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta.
Menurut Nugroho, mengobati TDS harus dilakukan di bawah pengawasan dokter. Hal senada dikatakan Wimpie. Bahkan Wimpie pernah meneliti obat herbal yang dijual bebas dan konon mampu meningkatkan kadar testosteron. Obat herbal itu diiklankan secara besar-besaran di media massa. ''Setelah saya teliti, ternyata obat herbal itu tidak ada efeknya sama sekali dalam meningkatkan testosteron,'' kata Wimpie. ''Menurut saya, masyarakat jangan mudah percaya dengan iklan. Apalagi jika yang diiklankan menyangkut produk-produk yang akan dikonsumsi, kita mesti hati-hati.''
Lalu, apa yang harus dilakukan ketika seseorang merasakan gejala-gejala TDS? Berkonsultasilah dengan dokter. Biasanya, dokter akan meminta pria dengan gejala TDS untuk menjalani pemeriksaan kadar testosteron. Jika benar menderita TDS, ia bisa diobati secara efektif dengan terapi testosteron yakni menambah testosteron dalam tubuh agar kembali pada kisaran normal. Seperti dijelaskan Nugroho, sediaan testosteron yang ada di Indonesia (mendapat izin dari BPOM) adalah: testosteron undecanoat kapsul 40 mg, mesterolone tablet 25 mg, testosteron propionat 30 mg, testosteron phenylpropionat 60 mg, testosteron decanoat 100 mg ampul, testosteron undecanoat (TU) 1000 mg ampul.
Untuk para penderita TDS di Indonesia, perusahaan farmasi Schering AG kini menyediakan terapi injeksi testosteron yang mengandung TU 1000 mg. Terapi terbaru ini memberikan dosis testosteron yang stabil dan konstan bagi tubuh dalam durasi yang panjang karena biasanya diberikan empat kali dalam setahun. ''Bila diberikan sesuai anjuran, injeksi TU 1000 mg dapat mengembalikan tingkat serum testosteron dalam kisaran normal,'' kata Nugroho.
Penelitian menunjukkan, TU 1000 mg mampu meningkatkan gairah seksual dan memperbaiki fungsi seksual, meningkatkan massa dan kekuatan otot, meningkatkan massa dan kekuatan otot, mengurangi lemak tubuh, dan memberikan efek positif pada suasana hati. Semua efek positif ini pada akhirnya dapat meningkatkan kondisi fisik dan kepercayaan diri penderita. Jarak penyuntikan yang cukup lama juga membuat nyaman penggunanya. Ini berbeda dengan terapi testosteron sebelumnya yang umumnya hanya dapat mempertahankan kadar testosteron dalam tingkat normal untuk periode jangka pendek, sehingga membutuhkan pemakaian obat yang berulang-ulang. Nah, dengan terapi terbaru ini, para pria hanya perlu mengunjungi dokter untuk mendapatkan injeksi TU 1000 mg, setiap tiga bulan saja.
Bisa Terjadi Lebih Dini
Defisiensi (kekurangan) hormon testosteron dapat menimbulkan berbagai gangguan, tergantung pada kapan dan seberapa luas defisiensi itu terjadi. Tak hanya pada pria usia produktif dan usia lanjut, defisiensi testosteron juga bisa terjadi pada kelompok usia yang lebih muda, bahkan pada janin (fetus). Seperti apa tanda-tanda kekurangan testosteron pada mereka, simak ulasan dari Prof Dr dr Wimpie Pangkalahila SpAnd FAACS, berikut ini.
Masa janin (fetus)
Defisiensi testosteron pada janin berusia 9-14 minggu bisa mengakibatkan interseksualitas dengan tidak adanya maskulinisasi pada organ seks bagian luar. Keadaan interseksualitas ini bervariasi mulai dari tampak seperti kelamin wanita sampai ke kelamin pria dengan hipospadia. Jika defisiensi terjadi pada masa akhir perkembangan (sampai sekitar 24 minggu kehamilan), dapat terjadi letak posisi testis tidak normal, penis kecil dan tidak berkembang (micropenis).
Pra remaja
Bila defisiensi testosteron terjadi setelah kelahiran namun anak belum memasuki masa remaja, maka virilisasi (kejantanan) tidak terjadi. Akibatnya muncul gejala eunuchoidism, yaitu tulang rawan epifise tidak berhenti tumbuh sehingga tulang lengan dan kaki menjadi panjang. Tanda lain yang terjadi adalah suara tidak berubah membesar, tidak tumbuh (sangat sedikit) rambut di wajah dan tubuh, rambut kelamin juga jarang, dan testis tidak berkembang.
Setelah masa pubertas
Bila defisiensi testosteron terjadi setelah anak memasuki masa pubertas, tanda yang terjadi bervariasi. Proporsi tubuh, suara, dan ukuran penis tidak berubah, namun rambut di tubuh dan wajah berkurang. Tanda yang penting adalah berkurangnya dorongan seksual dan fungsi ereksi, selain terjadi gangguan kesuburan bahkan kemandulan. Gejala lain adalah terjadinya osteoporosis (pengeroposan tulang), anemia, kelelahan, tenaga dan vitalitas menurun. Nah, kini cermati anak-anak Anda. Adakah tanda-tanda ini pada mereka?
Tampilkan postingan dengan label KESEHATAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KESEHATAN. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 24 Desember 2011
kardio
Tips Agar Latihan Kardio Lebih Efektif Membakar Lemak Badan Kalo mau olahraga untuk membakar lemak perut, maka lakukanlah olahraga yang termasuk dalam ketegori latihan kardio, seperti lari, jalan cepat, joging, bersepeda, senam aerobik dll. Nah untuk memaksimalkan hasilnya, coba simak tips berikut ini: - Berlatihlah pada saat kadar insulin dalam darah rendah. Lemak sebagai energi cadangan tidak akan bisa terpakai bila ada karbohidrat yang merupakan sumber energi utama, dan insulin adalah hormon yang dipicu pengeluarannya oleh adanya karbohidrat dalam darah, yang salah satu fungsinya adalah menghantarkan zat gizi dari makanan ke sel-sel tubuh yang membutuhkan dan menghambat penggunaan lemak sebagai energi. Jadi berlatihlah pada pagi hari sebelum sarapan dan jangan minum sesuatu yang manis dulu sebelumnya yang dapat merangsang pengeluaran insulin, atau berlatihlah setelah latihan beban dimana karbohidrat yang kita makan sudah habis terpakai untuk latihan beban. Atau jika hanya ingin latihan kardio saja pada sore atau malam hari, maka makanlah karbohidrat paling lambat sekitar 6 jam sebelum berlatih kardio agar karbohidrat yang dimakan dapat terpakai dalam rentang waktu 6 jam itu dan kadar insulin telah rendah ketika kita akan memulai latihan kardio. Bila dalam rentang waktu 6 jam itu perut terasa lapar dam ingin makan, maka protein adalah pilihan terbaik untuk mengatasinya karena protein tidak memicu pengeluaran insulin. - Berlatihlah dengan intensitas sedang. Pada awalnya energi yang digunakan untuk aktifitas kardio lebih banyak berasal dari karbohidrat tubuh dibanding lemak, dimana semakin lama persentasinya akan berubah tergantung pada tingkat intensitas dan durasi latihan yang dilakukan. Latihan kardio dengan intensitas yang rendah atau terlalu tinggi hanya akan membakar lebih banyak karbohidrat tubuh saja dibanding lemak. Jadi yang diperlukan disini adalah latihan kardio dengan intensitas sedang, dimana untuk mengetahui intensitas latihan kardio dapat dilakukan dengan mengukur jumlah detak jantung (heart rate) dalam 1 menit. Maksimum heart rate adalah 220, dan berbanding terbalik dengan usia, sehingga dengan bertambahnya usia 1 tahun maka heart rate pun berkurang 1. Tingkat heart rate yang dianjurkan agar tubuh efektif dalam membakar lemaknya adalah sekitar 65% dari maksimum ((220 – umur) x 65%), dan cukup dengan durasi sekitar 15-20 menit (pada 65% heart rate maksimum tsb). Mungkin diperlukan waktu sekitar 5-10 menit pertama dari sesi latihan kardio untuk dapat mencapai tingkat efektif heart rate ini dan pertahankan tingkat ini selama 15-20 menit. Jadi daripada jalan santai, maka lebih baik jalan cepat; daripada lari santai lebih baik lari agak cepat karena dapat lebih cepat meningkatkan heart rate ke tingkat yang efektif sehingga latihan kardio kita dapat lebih singkat. - Minum secangkir kopi pahit 1 jam sebelum berlatih. Kafein yang terkandung dalam kopi memerlukan waktu sekitar 1 jam untuk dapat diserap tubuh dan memberikan efek stimulasi yang dapat merangsang kerja otak sehingga tubuh dapat terasa lebih segar dan dapat membantu mempercepat naiknya suhu badan, dimana dengan suhu yang lebih tinggi maka tubuh akan membakar kalori lebih banyak. Hal ini dapat terjadi dengan catatan bahwa kita bukan peminum kopi rutin, karena konsumsi kafein dalam jangka panjang dapat memberikan efek kecanduan sehingga peminumnya memerlukan dosis yang lebih banyak lagi dari sekedar secangkir kopi untuk mendapatkan efek yang sama tersebut.
Kamis, 03 November 2011
Manfaat BUah Apel
Para ahli menemukan bahwa senyawa kimia dalam buah apel yang dikenal dengan nama procianidins dapat menghentikan pertumbuhan kanker.
Percobaan ini dilakukan terhadap tikus yang diinjeksi dengan sejenis zat pemicu kanker usus. Setelah enam minggu diberi makanan diet air dan apel procianidins ditemukan bahwa angka pertumbuhan zat pemicu kanker usus dapat ditekan hingga setengahnya.
Pimpinan penelitian, Dr Francis Raul, yang berasal dari Strasbourg, mengatakan bahwa, “Penelitian kami menunjukkan bahwa dengan mengkonsumsi seluruh bagian apel termasuk kulit, dapat meningkatkan kekebalan tubuh terhadap kanker.
Pola Hidup Sehat
- Kurangi makanan berlemak tinggi, seperti mentega, margarine, dan santan. Lebih baik dapatkan asupan lemak alami dari kacang-kacangan atau biji-bijian. Lupakan jeroan, otak, makanan berkuah santan kental, kulit ayam dan kuning telur. Pilihlah daging tanpa lemak, makanan berkuah bening, susu rendah lemak, susu kedelai, yogurt, putih telur, dan ikan sebagai sumber protein yang baik
- Sedapat mungkin hindari bahan pangan atau bahan pengawet yang dalam jangka panjang dapat menjadi pemicu kanker.
- Pilih makanan atau minuman yang berwarna putih alami (bukan di-bleach). Gunakan pewarna dari bahan makanan misalnya warnet coklatnya dari bubuk coklat, merahnya strowbery, kuningnya kunyit, dan hijaunya daun suji. Jangan menambahkan saus, kecap, garam dan bumbu-bumbu penyedap secara berlebihan. Perbanyak makan buah dan sayuran.
- Teknik pengolahan makanan juga mempengaruhi mutu makanan. Pilih makanan dengan metode memasak dikukus, direbus, atau ditumis dengan sedikit minyak.
- Perbanyak minum air putih, mineral 8 gelas sehari, hindari minuman beralkohol, bersoda dan minuman dengan kandungan gula dan kafein tinggi. Jus sayuran dan buah baik untuk menjaga dan memelihara kesehatan tubuh.
Rabu, 02 November 2011
Health Highlights » Berapa Jam Tidur yang Sehat?
Oleh: dr. Titania Nur Shelly
Klikdokter.com - Tidur yang sehat, berapa jam sehari? Tidur merupakan aktivitas alamiah setiap individu. Hampir sepertiga hidup kita, kita habiskan untuk tidur. Dahulu, tidur dianggap sebagai waktu tubuh untuk beristirahat setelah lelah bekerja, sekolah, dan aktivitas lainnya.
Seiring dengan berjalannya waktu, ilmu pengetahuan membuktikan bahwa tidur tidak lagi hanyalah sesuatu untuk mengisi waktu saat seseorang dalam kondisi tidak aktif. Bahkan, tidur sendiri melibatkan banyak sekali aktivitas dan ternyata memiliki banyak pengaruh pada kesehatan.
Berbagai penelitian dilakukan untuk melihat bagaimana pengaruh tidur pada tubuh menemukan bahwa tidur berhubungan antara lain dengan peningkatan dan penurunan berat badan, hingga risiko kematian di masa yang akan datang.
Sebuah penelitian dilakukan oleh Universitas Wincosin, Amerika Serikat menemukan bahwa lamanya (durasi) tidur seseorang dapat berpengaruh pada Indeks Massa Tubuh (IMT). Penelitian dilakukan pada 1.024 sukarelawan berusia 30-60 tahun. Pada penelitian ini, kebiasaan tidur yang kurang dari 7,7 jam berkaitan dengan peningkatan BMI, baik pada anak, remaja, maupun orang dewasa. Mengapa hal ini dapat terjadi? Ternyata, setelah memeriksa kadar hormon-hormon pada sampel penelitian, didapatkan bahwa tidur berkaitan dengan perubahan kadar hormon yang disebut dengan leptin dan ghrelin.
Leptin adalah sebuah hormon yang berasal dari sel lemak yang bersifat mengurangi nafsu makan. Sedangkan Ghrelin merupakan peptida yang berasal dari lambung yang justru meningkatkan nafsu makan. Penurunan waktu tidur dari 8 jam menjadi 5 jam pada rata-rata waktu malam hari diprediksi penurunan kadar leptin sebesar 15,5% dan peningkatan kadar ghrelin sebanyak 14,9%. Apabila terjadi kekurangan kadar leptin dan tingginya kadar ghrelin, maka nafsu makan akan meningkat dan dapat menyebabkan obesitas atau kelebihan berat badan. Obesitas merupakan risiko yang tinggi untuk terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah yang pada akhirnya meningkatkan risiko kematian.
Penelitian tentang lamanya tidur ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan sebelumnya oleh Kripke, dkk di California, Amerika Serikat yang mendapatkan bahwa risiko kematian meningkat pada waktu tidur 8 jam atau lebih, atau tidur kurang dari 7 jam. Penelitian yang melibatkan lebih dari 1 juta individu ini menemukan bahwa tidur selama 8, 9, 10 atau lebih jam dapat meningkatkan risiko untuk meninggal akibat penyakit jantung dan pembuluh darah pada baik wanita dan pria. Penggunaan pil tidur yang sering untuk mengontrol insomnia juga berkaitan dengan peningkatan risiko kematian. Nah, lalu berapa lama waktu terbaik untuk tidur? Pada penelitian ini angka kematian terendah didapatkan pada wanita dan pria yang mempunyai durasi tidur 7 jam, atau lebih tepatnya antara 6,5-7,4 jam per malam.
Dari berbagai penelitian tersebut, jelaslah bahwa tidur yang baik dan sehat adalah tidur yang cukup, yaitu sekitar 7 jam sehari. Bila merasa sulit tidur, lakukanlah kegiatan-kegiatan yang sealamiah mungkin, seperti mandi air hangat, meminum secangkir cokelat hangat, atau membaca bacaan-bacaan ringan dapat merilekskan otot-otot tubuh anda sehingga lebih mudah untuk tertidur.[]
Langganan:
Postingan (Atom)